Friday, November 13, 2020

Tugas Tutorial 2 Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

 

Kode/Nama Matakuliah

:

PDGK4407/Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Tutor Pengampu

:

Muslihan, M.Pd.

Tugas Tutorial

:

2

Nama Mahasiswa

:

Aang Kusnadi Yamin

NIM

:

859129784

 

Soal:

1.     Jelaskan devinisi anak berbakat versi amerika (francoya gangen) dan versi indonesia !

2.     Jelaskan disain pembelajaran anak berbakat menurut Renzulli!

3.     Jelaskan  dua jenis definisi sebuhubungan dengan kehilangan penglihatan!

4.     Jelaskan strategi WHO untuk memerangi kebutaan dan kurang waras!

5.     Jelaskan pengertian dari tunarungu menurut beberapa ahli!

 

Jawab:

1.     Definisi anak berbakat versi Amerika:

Yang dimaksud dengan anak berbakat (gifted dan talented) ialah mereka yang menunjukkan secara konsisten penampilan luar biasa hebat dalam suatu bidang yang berfaedah (Henry, seperti yang dikutip oleh Kirk dan Gallagher, 1979:61). Adapun definisi formal yang dikemukakan oleh Francoya Gagne adalah sebagai berikut: Giftedness berhubungan dengan kecakapan yang secara jelas berada di atas rata-rata dalam satu atau lebih ranah (domains) bakat manusia. Talented berhubungan dengan penampilan (performance) yang secara jelas berbeda di atas rata-rata dalam satu atau lebih bidang aktivitas manusia (Gagne dalam Calangelo dan Davis, 1991:65).

Definisi anak berbakat versi Indonesia:

Yang disebut anak berbakat adalah mereka yang didefinisakan oleh orang-orang professional mampu mencapai prestasi yang tinggi karena memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa. Mereka menonjol secara konsisten dalam salah satu atau beberapa bidang, meliputi bidang intelektual umum, bidang kreativitas, bidang seni/kinetic, dan bidang psikososial/kepemimpinan. Mereka memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat merealisasikan urunan mereka terhadap masyarakat maupun terhadap diri sendiri.

 

2.     Renzulli, dkk., seperti dikutip Conny Semiawan (1995) mengemukakan bahwa identifikasi anak berbakat harus mewakili kawasan-kawasan kemampuan intelektual umum, komitmen terhadap tugas, dan kreativitas. Menurutnya kinerja seseorang secara khusus dipengaruhi oleh motivasi yang muncul dalam menyelesaikan tugasnya dan ketiga dimensi itu saling berhubungan. Prosedur identifikasi dengan sendirinya memperhatikan factor intelektual dan nonintelektual. Pendekatan Renzulli ini penting karena dapat membedakan anak-anak berbakat dari mereka yang biasa-biasa saja terutama dilihat dari factor motivasi dan kreativitas.

 

3.     Dua jenis definisi sehubungan dengan kehilangan penglihatan:

-       Definisi legal (definisi berdasarkan peraturan perundang-undangan). Dipergunakan terutama oleh profesi medis untuk menentukan apakah seseorang berhak memperoleh akses terhadap keuntungan-keuntungan tertentu sebagaimana diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti jenis asuransi tertentu, bebas bea transportasi, atau untuk menentukan perangkat alat bantu yang sesuai dengan kebutuhannya. Ada dua aspek yang diukur yaitu:

o   Ketajaman penglihatan (visual acuity), paling umum untuk mengukur ketajaman penglihatan adalah dengan menggunakan snellen chart yang terdiri dari huruf-huruf atau angka-angka atau gambar-gambar yang disusun berbaris berdasarkan ukuran besarnya.

o   Medan pandang (visual field), adalah luasnya wilayah yang dapat dilihat orang tanpa menggerakkan matanya. Mata dengan penglihatan normal mempunyai medan pandang 180 derajat. Orang yang medan pandangnya sangat sempit ibarat melihat melalui sebuah cerobong; dia harus menolehkan wajahnya ke kiri dan kanan untuk dapat melihat lebih banyak.

-       Definisi edukasional (definisi untuk tujuan pendidikan) atau definisi fungsional, yaitu yang difokuskan pada seberapa banyak sisa penglihatan seseorang dapat bermanfaat untuk keberfungsiannya sehari-hari. Dua orang yang mempunyai tingkat ketajaman penglihatan yang sama dan bidang pandang yang sama belum tentu menunjukkan keberfungsian yang sama. Secara edukasional, seseorang dikatakan tunanetra apabila untuk kegiatan pembelajarannya dia memerlukan alat bantu khusus, metode khusus atau teknik-teknik tertentu sehingga dia dapat belajar tanpa penglihatan atau dengan penglihatan yang terbatas. Berdasarkan cara pembelajarannya, ketunanetraan dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu buta (blind) atau tunanetra berat dan kurang awas (low vision) atau tunanetra ringan.

 

4.     Secara internasional, WHO mempunyai satu strategi yang terdiri dari tiga langkah untuk memerangi kebutaan dan kurang awas. Ketiga langkah tersebut adalah:

a.     Memperkuat program kesehatan dasar mata di dalam program pelayanan kesehatan dasar untuk menghapuskan factor-faktor penyebabnya yang dapat dicegah;

b.     Mengembangkan pelayanan terapi dan pembedahan untuk menangani secara efeketif gangguan mata yang “dapat disembuhkan”;

c.     Mendirikan pusat pelayanan optic dan pelayanan bagi penyandang tunanetra.

 

5.     Pengertian tunarungu menurut beberapa ahli antara lain:

a.     Pendapat Hallahan dan Kauffman (1991:266), yaitu:

Hairing impairment. A generic term indicating a hearing disability that may range in severity from mild to profound it includes the subsets of deaf and hard of hearing.

A deaf person in one whose hearing disability precludes successful processing of linguistic information through audition, with or without a hearing aid.

A hard of hearing person is one who, generally with the use of a hearing aid, has residual hearing sufficient to enable successful processing of linguistic information through audition.

Dari pernyataan tersebut di atas, dapat diartikan bahwa tunarungu (hearing impairment) merupakan satu istilah umum yang menunjukkan ketidakmampuan mendegar dari yang ringan sampai yang berat sekali yang digolongkan kepada tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing).

b.     Frisina (Moores, 2001:11: Kirk, S. & Gallagher, J., 1989:300) mengemukakan:

A deaf person is one whose hearing is disabled to an extent that precludes the understanding of speech through the ear alone, with or without the use of hearing aid.

A hard of hearing person is one whose hearing is disabled to an extent that makes difficult, but does not preclude, the understanding of speech through the ear alone, without or with a hearing aid.

Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa orang yang tuli (a deaf person) adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendengar sedemikian besar, yang menghambat pemahaman bicara melalui pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar. Sedangkan orang yang kurang dengar (a hard of hearing person) adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendengar sedemikian besar sehingga mengalami kesulitan, tetapi tidak menghambat pemahaman pembicaraan melalui pendengarannya, tanpa atau dengan menggunakan alat bantu dengar.

Tugas Tutorial 1 Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

 

1

Kode/Nama Matakuliah

:

PDGK4407/Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

 

IDENTITAS MAHASISWA

Nama

Aang Kusnadi Yamin

NIM

859129784

 

SOAL

1.     Jelaskan pengertian istilah anak berkebutuhan khusus !

2.     Jelaskan isi PP No. 17/2010 pasal 129 ayat 3!

3.     Jelaskan penyebab munculnya kebutuhan khusus berdasarkan waktu terjadinya!

4.     Jelaskan jenis pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan para penyandang kelainan!

5.     Jelaskan perbedaan pendidikan segregasi, intergrasi dan inklusi!

 

JAWABAN

1.     Menurut Heward, anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Kebutuhan khusus dapat dimaknai sebagai kebutuhan khas setiap anak terkait dengan kondisi fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau kecerdasan atau bakat istimewa yang dimilikinya.

2.     Peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang:

a)       tunanetra;

b)      tunarungu;

c)       tunawicara;

d)      tunagrahita;

e)       tunadaksa;

f)       tunalaras;

g)      berkesulitan belajar;

h)      lamban belajar;

i)        autis;

j)        memiliki gangguan motorik;

k)      menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain; dan

l)        memiliki kelainan lain.

 

3.     Berdasarkan waktu terjadinya, penyebab kelainan dapat dibagi menjadi tiga kategori seperti berikut:

a)       Penyebab Prenatal, yaitu penyebab yang beraksi sebelum kelahiran. Artinya, pada waktu janin masih berada dalam kandungan, mungkin sang ibu terserang virus, misalnya virus rubela, mengalami trauma atau salah minum obat, yang semuanya ini berakibat bagi munculnya kelainan pada bayi.

b)      Penyebab Perinatal, yaitu penyebab yang muncul pada saat atau waktu proses kelahiran, seperti terjadinya benturan atau infeksi ketika melahirkan, proses kelahiran dengan penyedotan (di-vacuum), pemberian oksigen yang terlampau lama bagi anak yang lahir premature.

c)       Penyebab Postnatal, yaitu penyebab yang muncul setelah kelahiran, misalnya kecelakaan, jatuh, atau kena penyakit tertentu. Penyebab ini tentu dapat dihindari dengan cara berhati-hati, selalu menjaga kesehatan, serta menyiapkan lingkungan yang kondusif bagi keluarga.

 

4.     Jenis pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan para penyandang kelainan dapat dibedakan menjadi 3 kategori sebagai berikut:

a.      Layanan pendidikan yang berkaitan dengan bidang kesehatan dan fisik, seperti kebutuhan yang berkaitan dengan koordinasi gerakan anggota tubuh dan berbagai jenis gangguan kesehatan, melibatkan berbagai tenaga professional, seperti ahli terapi fisik dan berbagai dokter ahli.

b.     Layanan pendidikan yang berkaitan dengan kebutuhan emosional social, seperti kebutuhan yang berkaitan dengan konsep diri, penyesuaian diri dengan lingkungan / masyarakat sekitar, menghadapi peristiwa penting dalam hidup, dan kebutuhan bersosialisasi. Layanan pendidikan ini melibatkan para psikolog dan pekerja social.

c.      Layanan pendidikan yang memang berkaitan langsung dengan kebutuhan pendidikan, yang merupakan kebutuhan terbesar para penyandang kelainan, melibatkan ahli pendidikan dari berbagai bidang dan psikolog.

 

5.     Perbedaan Pendidikan Segregasi vs Intergrasi vs Inklusi…

Sistem pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan dimana anak berkebutuhan khusus terpisah dari sistem pendidikan anak pada umumnya. Penyelengggaraan sistem pendidikan segregasif dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak pada umumnya. Contohnya SLB.

 

Pendidikan Intergrasi yaitu bersekolahnya seorang anak berkebutuhan khusus pada sekolah regular. Dapat diartikan pada proses memindahkan seorang siswa pada lingkungan yang tidak terlalu terpisah. Seorang anak berkebutuhan khusus yang bersekolah pada sekolah regular, tetapi berada pada unit atau kelas khusus.

Sekolah/pendidikan inklusi adalah sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dalam program yang sama, dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

RESUME MATA KULIAH PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS MODUL 6

Dalam pembelajran ABK modul 6 ini kita akan membahas tentang “ pendidikan khusus anak tunagrahita”. Dimana dalam modul 6 ini terbagi menjadi 3 kegiatan pembelajaran:

KB 1 yaitu  membhasa tentang definisi,klasifikasi,penyebab,dan cara pencegah tunagrahita

KB 2 yaitu membahas tentang dampak ketunagrahitaan

KB 3 yaitu tentang kebutuhan khusus dan profil penduidikan bagi anak tunagrahita

Selanjutnya yang pertama kita akan membhas kegiatan pembelajran 1 yaitu :

A.    Definisi tuna grahita

1.     peristilahan

Ada beberapa istilah yang di gunakan dalam definisi ini di dalam bahasa indonesia yaitu :

1.     Lemah otak

2.     Lemah ingatan

3.     Lemah fikiran

4.     Retardasi mental

5.     Terbelakang mental

6.     Cacat grahita

7.     Tunagrahita

Sedangkan definisi dalam bahas inggris yaitu :

1.     Mental retardation

2.     Mental deficiency

3.     Mentally handicapped

4.     Feebliminded

5.     Mental subnormality

Dan untuk lebih jelasnya bisa di baca pada modul halaman 6.4

2. Pengertian

Pengertian yang di maksudkan di sisni adalah pemahaman yang jelas tentang siapa dan bagaiman kah anak tunagrahita itu dan merupakan hal yangsangat penting untuk menyelenggarakan layanan pendidikan dan pengajaran yang tepat bagi penyandang tunagrahita tersebut.

Dari definisi tersebut beberapa hal yang perlu di perhatikan adalah sebagai berikut :

a.     Fungsi intlektual umum secara signifikan berada di bawah rata-rata

b.     Kekuranga dalam tingkah laku penyesuaian ( perilaku adaptif )

c.     Ketunagrahitaan berlangsung pada periode perkembangan

B.    Klafikasi anak tunagrahita

Klarifikasi anak tunagrahita ini sangat penting dilakukan untuk mempermudah guru dalam penyusunan program dan melaksanakn layana pendidikan.

Klarifikasi inipun bermacam-macam sesuai dengan disisplin ilmu mauapun perubahan pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita.

Klasifikasi yang di gunakan sekarang adalah yang di kemukakan oleh American Asociation on Mental Deficiency ( Hallahan, 1982:43 ),sebagai berikut ;

1.     Mild mentak retardation

2.     Moderate mental retardation

3.     Profound mental retardation

Selengkapnya bsa di baca pada modul halaman 6.7

C.    Penyebab dan cara pencegahan ketunagrahitaan

1.     Penyebabnya antara lain

a.     Penyebab genetik dan kromososm

b.     Penyebab pada pra kelahiran

c.     Penyebab pada saat kelahiran

d.     Penyebab-penyebab selama masa perkembangan anak-anak dan remaja

2.     Usaha pencegahan bisa di lakukan dengan cara

a.     Penyuluhan genetik

b.     Diagnostik prenatal

c.     Imunisasi

d.     Tes darah

e.     Melalui program keluarga berencana

f.      Tindakan oprasi

g.     Sanitasi lingkungan

h.     Pemeliharaan kesehatan

i.      Intervensi dni

j.      Diet sesui dengan pentunjuk ahli kesehatan

Maksudnya bisa di baca di modul 6.13

 

Kegiatan pembelajaran 2 yaitu tentang dampak ketunagrahitaan

A.    Dampak secara umum

1.     Dampak terhadap kemampuan akademik

2.     Sosial emosional

3.     Fisik/kesehatan

B.    Dampak di tinjau dari tingkat ketunagrahitaan itu sendiri dapat di bagi menjadi :

1.     Tunagrahita ringan

2.     Tunagrahita sedang

3.     Tunagrahita berat dan sangat berat

C.    Dampak di lihat dari waktu terjadinya yaitu dapat mempengaruhi hambatan yang di derita oleh anak tersebut,contohnya anak yang baru lahir tanpak mengantuk terus,apatis,tidak pernah sadar,jarang menangis,kalau sudah menangis susah berhentinya, terlambat duduk,bicara dan berjalan. Lebih jelasnya ada pada modul halaman 6.24

Kegiatan pembelajaran 3 yaitu tentang kebutuhan khussus dan profil pendidikan bagi anak tunagrahita

A.    Kebutuhan khusus anak tunagrahita

1.     kebutuhan pendidikan

2.     kebutuhan sosial dan emosi

3.     kebutuhan fisik dan kesehatan

B.    profil pendidikan anak tunagrahita

1.     tujuan pendidikan anak tunagrahita ( 6.32 )

2.     ciri khas pelayanan ( 6.36 )

3.     materi

4.     strategi pembelajaran

5.     media

6.     sarana

7.     fasilitas pendukung

8.     evaluasi

Demikian sedikit pemaparan dari kelompok modul 6 tentang PENDIDIKAN KHUSUS ANAK TUNAGRAHITA.

 

 

 

 

Sunday, November 24, 2019

Merumuskan Hipotesis Tindakan dan Kerangka Berfikir dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Pengertian Hipotesis Tindakan

Kegiatan selanjutnya setelah masalah dirumuskan secara oprasional adalah merumuskan hipotesis tindakan. Secara etimologis Hipotesis berasal dari dua kata yaitu, “hypo”  yang berarti sementara, dan “thesis” yang berarti kesimpulan. Secara singkat hipotesis dapat diartikan kesimpulan sementara. Dengan demikian, hipotesis berarti dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu masalah penelitian.

Sedangkan Hipotesis tindakan adalah dugaan mengenai perubahan yang mungkin jika suatu tindakan dilakukan. Bentuk umum rumusan dari hipotesis tindakan berbeda dari dari hipotesis penelitian pada umumnya, karena hipotesis tindakan biasanya dirumuskan dalam bentuk  keyakinan bahwa tindakan yang dilakukan dapat memperbaiki proses atau meningkatkan hasil. Hipotesis tindakan merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi sebagai alternatif tindakan yang dipandang paling tepat untuk memecahkan masalah yang telah dipilih untuk memecahkan PTK. Hipotesis tindakan pada hakikatnya merupakan jawaban sementara yang menyatakan bahwa: “jika dilakukan sesuatu tindakan tertentu, maka masalah yang sedang dihadapi dapat dipecahkan”.

Untuk kepentingan tersebut terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan.
1# Diskusikan rumusan hipotesis tindakan dengan teman sejawat.
2# Pelajari hasil-hasil penelitian yang relevan yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu.
3# Identifikasi berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.
4# Pilih tindakan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi dan dapat dilakukan oleh guru.
5# Tentukan cara untuk menguji hipotesis tindakan.

Contoh Perumusan Hipotesis Tindakan

Berikut ini akan diberikan contoh perumusan hipotesis tindakan dari sebuat judul PTK tentang “Upaya Meningkatkan rendahnya hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran remedial pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Teluk Keramat Kabupaten Sambas tahun 2015”.

Adapun hipotesis tindakan dari judul tersebut adalah Penerapan Pembelajaran Remedial pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat Meningkatkan Rendahnya Hasil Belajar Siswa di Kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Teluk Keramat Kabupaten Sambas tahun 2015.

Merumuskan Kerangka Berpikir PTK

Kerangka Berpikiran adalah alur/pola pikir yang disusun secara singkat untuk menjelaskan bagaimana sebuah penelitian tindakan kelas dilakukan dari awal, proses pelaksanaan, hingga akhir, yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah melalui suatu penelitian. Kerangka berpikir dapat disusun dalam bentuk kalimat-kalimat atau digambarkan sebagai sebuah diagram.
Kerangka berpikir berisiskan sekurang-kurangnya mengenai masalah yang terjadi ditempat penelitian, penyebab masalah, tindakan yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah, dan sasaran atau tujuan akhir yang diharapkan dari penelitian.

Cara Menulis dan Contoh Kerangka Berpikir PTK dalam bentuk Rumusan Kalimat-Kalimat

Ada empat cara dalam merumuskan kerangka berpikir PTK dalam bentuk kalimat-kalimat. Keempat cara tersebut adalah:
1# Rumuskan kondisi saat ini (sebelum PTK dilaksanakan), secara singkat.
2# Rumuskan tindakan yang akan dilakukan, secara singkat.
3# Rumuskan hasil akhir yang anda harapkan, juga secara singkat.
4# Susun ketiga komponen di atas dalam sebuah paragraf yang padu.

Contoh penulisan kerangka berpikir dari judul PTK tentang “Upaya Meningkatkan rendahnya hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran remedial pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Teluk Keramat Kabupaten Sambas tahun 2015”, dalam bentuk kalimat-kalimat adalah sebagai berikut:

Masalah yang ditemukan dalam pembelajaran PPKn, yaitu menyangkut rendahnya hasil belajar siswa. Penyebab timbulnya adalah karena kesalahan dalam penggunaan metode, strategi, pendekatan dan model pembelajaran. Pemecahannya dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran remedial. Sasarannya adalah dengan penerapan pembelajaran remedial dapat mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa. Dengan solusi tersebut diharapkan semua hasil belajar siswa dikategorikan tuntas.

Cara Menulis dan Contoh Kerangka Berpikir PTK dalam Bentuk Diagram

Ada 4 cara menulis kerangka berpikir dalam bentuk diagram. Adapun caranya adalah:
1# Rumuskan kondisi saat ini (sebelum PTK dilaksanakan), dalam bentuk poin-poin penting dengan singkat.
2# Rumuskan poin-poin penting tindakan yang akan dilakukan, secara singkat.
3# Rumuskan poin-poin hasil akhir yang anda harapkan, juga secara singkat.
4# Rancang sebuah diagram yang memuat poin-poin tersebut dengan alur yang rasional dan jelas.

Contoh Kerangka berpikir dalam bentuk diagram dari judul PTK tentang “Upaya Meningkatkan rendahnya hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran remedial pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Teluk Keramat Kabupaten Sambas tahun 2015”, dapat digambarkan seperti di bawah ini:

Merumuskan Hipotesis Tindakan dan Kerangka Berfikir dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Sumber : Jakni. 2017. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Alfabeta